Jumat, 24 Juni 2016

BOOK REVIEW - NOVEL BIOGRAFI MUHAMMAD (Lelaki Penggenggam Hujan)

suplemen

Terusirnya Sang Lelaki Mulia dari kota kelahirannya Mekah, Yastrib menjadi tempat beliau membangun kekuatan atas seizin Allah. Dibersamai kaum Muhajirin, disambut dengan sukacita oleh kaum Anshar di kota yang kelak akan dikenal dengan nama Kota Cahaya ini, beliau membangun peradaban baru yang dipersiapkan sebagai Rahmatan lil alamin. Kita akan menyaksikan bagaimana Baginda Rasulullah SAW kembali ke kota Mekah dengan kepala tegak dan menumbangkan Hubal, si pagan raksasa , tanpa setitikpun kebencian dan dendam.

Dari tanah Yastrib yang gersang itu memancar tiga cahaya, dibukakan masing-masing ke Yaman, Suriah, dan Persia. Dari arah Istana Koshrou, sementara itu Sang Pemindai Surga memulai pelariannya atas dasar niatan pemurnian ajaran suci Zardusht. Sungguh pelarian yang memakan banyak air mata dan nyawa, ramalan manusia yang dijanjikan itu telah menghantui kekuasaan Khosrou. Rasa penasaran dan hasrat pembuktian akan kebenaran kitab Zardusht memberi Kashva kekuatan melawan hunusan pedang tentara Khosrou, menyusuri setapak rimba, hingga mendaki gunung salju.


Seperti membuka kembali buku sejarah Islam namun dengan plot yang ciamik. Ditambah penggunaan diksi yang jauh dari kesan khas buku ilmiah dan sejarah, buku ini benar-benar ibarat adjuvant therapy di bulan Ramadhan yang paling pas dengan Al-Qur’an sebagai terapi utamanya. Cara bercerita penulis benar-benar membawa kita menjadi sangat dekat dengan para sahabat Nabi, keluarganya, dan tentunya Baginda Rasulullah SAW sumber segala tauladan. 

Siap-siap nge-gotong seri kedua Muhammad - Pengeja Hujan dari gramed nih, ini nagih.

Judul : Muhammad - Lelaki Penggenggam Hujan
Penulis : Tasaro GK
Jenis : Novel Biografi
Tebal : 668 halaman
Edisi II, Cet.2, 2016

Kamis, 19 Mei 2016

Bookshelf W8ing List

Selamat (H+2) Hari Buku Nasional!!!

Setelah menggila di Gramedia pada World Book Day (23 Apr) yang lalu, badai godaan kembali menerjang... kemarin (17 Mei) Hari Buku Nasional kembali datang dengan tawaran diskon menarik, 20% all books.
Demi apah!

Sejatinya, saat ini adalah tanggal-tanggal kritis para penerima upah tgl 25 monthly. Namun... hasrat tetaplah hasrat, yang hampir selalu mem-buta-tuli-kan manusia.

Tapi, ini semacam sekuel yang tak akan habis...
Sungguh, buku satu-satunya barang yang tak pernah saya sesalkan membeli ketika tersadar dari ke-kalap-an diskon atau apapun bentuk euforia nya.

Below the brand new books on my private bookshelf:
1. "Gila Baca ala Ulama". Ali Bin Muhammad Al-'Imran
2. "3M Magic Memory for Muslim". Erwin Kurnia Wijaya
3. "Fihi Ma Fihi". Jalaluddin Rumi
4. "Belajar Hidup dari Rumi - Serpihan-serpihan Puisi Penerang Jiwa". Haidar Bagir
5. "Muhammad-Lelaki Penggenggam Hujan". Tasaro GK.

I've been reading the 2nd book of those..,and...i'll write the review then.
I hope i can.
I'm trying.

Catch y'all later.

Sebagai penutup, izinkan saya mengutip salah satu serpihan puisi elok dari Maulana Rumi.

"Malam larut
Malam memulai hujan
Ini saatnya kembali pulang (ke rumah Tuhan)
Jauh sudah kita mngembara
Jelajahi rumah-rumah kosong belaka"

Senin, 04 Januari 2016

+1 Bonus

Mari lestarikan tradisi mengisi blog di awal tahun masehi.  WOW! THIS is a Leap Year, Beibeh! We have one day bonus for this year.
PART 3-nya Kampung Inggris masih tersesat entah dimana, nyaris tertimbun tumpukan rutinitas bertabirkan kemalasan menulis. Whatever,  at least hari ini saya sudah membuat sedikit pergerakan signifikan yang mengarah ke sana. Semoga.

Normalnya blogger, postingan pertama mereka di awal tahun adalah resolusi.... resolusi, resolusi... resolusi. Yap, para blogger notmalnya memang para jiwa-jiwa optimis yang menjunjung tinggi semangaat pantang kalah. I was.

But, look... saya pernah dengar ungkapan tentang, tujuan hidup seseorang akan semakin sederhana seiring dengan bertambahnya kematangan diri, umur mereka. Mereka tidak menghapus, memutuskan asa-asa itu, mimpi-mimpi itu,  cita-cita itu.  Mereka hanya menyederhanakannya. Ingat tentang teori sederhana pecaha,  waktu SD dulu kita pernah dapat materi ini.

2/10 = 1/5 = 0,2
We just make it simpler, same goal,  same path...

Ternyata sejak di bangku SD kita telah diajarkan untuk menyederhanakan apapun, termasuk urusan hidup. 


HAPPY LIVING, FOLKS!

Kamis, 05 November 2015

Bukan Part 3


it should be the part 3, Let's Go To Kampung Inggris. But, as always me ... rasanya terlalu bukan 'me' kalau yang sistematis itu, jadilah postingan ini bukan tentang Kampung Inggris. Hmmm... ya gitu de!

kalau jaman kuliah rasanya sering banget kepala begah, terus buru-buru pengen muntah kapanpun itu... selalu aja bisa ditunaikan. Selarut apapun, gak jarang sampe gak tidur semalaman padahal ada kuliah pagi. Udah lumrah aja, yang penting plong. iya plong di kepala, entah apa manfaatnya cuap-cuap di sini yang penting plong buat diri sendiri aja dulu. Seratus delapan puluh derajat sekarang, kayaknya tidur telat dikit aja pertimbangannya sampe itung-itungan menit yang bisa dimanfaatin buat istirahat. Ahhh, alhasil unek-unek yah sebatas unek numpang lewat trus ilang di tikungan.

Perkara habit nulis ini saya sensitif banget, mati-matian ngotot harus dipertahanin. Selain saya suspect pengidap Mild Cognitive Impairment (red: pikun ringan dini, maaf ini bahasa alam saya sendiri) jadi pengen banget semua kejadian dan peristiwa saya itu ada blueprint berbentuk tulisannya yang bisa dikenang-kenang kalau sedang pengennya mungkin. Hal lainnya juga malu sama laman ini, teman lama yang mungkin sudah ngerasa terlupakan. Celakalah saya hanya demi materi melupakan seorang teman lama, teman semasa 4l4y. Dulu aja, hampir tiap kejadian pengen ditulis, dari kejadian di bus sampe nyari wi-fi di kafe, dari ngungsi di asrama sampe pindah kosan, dari momen ulangtahun orang sampe ulangtahun kucing tetangga. Yah sealay itu, kalo gak percaya bole cek archive blog di sidebar. Oh percaya? ya udah.

Momen rutin lainnya yang sering saya tulis dahulu kala adalah ketika hari blogger nasional. Biasanya itu adalah momen dimana kita para blogger merasa bagian dari seniman yang memiliki karya dan karya kita diapresiasi oleh khalayak nasional. itulah hari blogger nasional bagi saya. Semoga hari blogger nasional selalu bisa jadi reminder buat saya untuk selalu ingat menulis, selalu ingat untuk tetap 4l4y dalam menulis.

Sudah lama juga memang gak cerita hal-hal ringan tentang keseharian. sesederhana dan sesimpel apapun kejadian sehari-hari bukan tidak mungkin selalu ada hal yang patut dijadikan pembelajaran. Tidak melulu harus ada jalan-jalan atau liburan kemana baru harus terpaksa ditulis, keseharian pun sarat akan makna kalau kita memang mau mengambil pembelajaran dari setiap peristiwa. Cailah, gaya banget!. Yah pokoknya gitulah kurang lebih. 

Jadi intinya untuk habi 4l4y satu ini mau tak mau harus saya pertahanin, walau Raditya Dika tak lagi ber-'kandang' di dunia ini saya akan tetap melestarikan 'kandang' ini hingga nanti titik liur penghabisan. Tapi, in that case Raditya Dika tetap berkarya dalam media lain.

Karena sekarang gak bisa seeksis dulu cerita keseharian, jadi sekedar sekilas, saya akan rangkum keseharian saya sekarang per point berikut:
  • Setelah Semarang gagal dengan saya, saya re-domisili Kota Jambi sejak awal Juni
  • sebelum ke jambi sempat nyangkut di kampung Inggris selama hampir sebulan, buru-buru pulang karena Abang mau nikahan
  • Jobseeker di Jambi sampe habis lebaran
  • Diterima di salah satu distributor alkes/farma swasta dan mulai kerja pertengahan Agustus
  • Janji bike to work terabaikan dengan alasan jam kerja yang masih menggila di awal kerja, kemudian dibarengi dengan terpaan kabut asap dan sampai akhirnya pergantian kepala cabang dari yang workholic ke yang wolesholic (tssaah). Ditambah saya udah terlalu 'gatel' juga sejak satu minggu yang lalu akhirnya saya bike to work. Memang ada hikmahnya, gak lama mulai bike to work sekitar 5 hari yang lalu cuaca sudah pulih. Hujan turun kabut urung. 
Sekian deh buat malam ini, udah somnolen banget gegara terpaksa nelen tramadol sejak kemaren. iya random banget postingan hari ini antara pengen ngeksis lagi sama 4l4y, whatever lah.



Sampai jumpa kengkawan, jangan lupa bahagia, jangan lupa menulis! 

"Ikatlah ilmu dengan menulis. Bahwa apapun yang kau tulis akan diminta pertanggungjawabannya kelak"
--Ali bin Abi Thalib

Senin, 14 September 2015

Let's go to Kampung Inggris! (Part 2)

Hal yang pertama kali dilakukan oleh sejuta umat yang baru tiba di pare adalah .... *jeng jeng jeng, RENTAL SEPEDA. Ini nih, ini adalah hal wajib yang kalian harus lakukan untuk menjadi manusia pare seutuhnya. Jenis sepeda yang tersedia bermacam-macam tergantung kantong, tujuan sepeda digunakan, dan sepanjang apa kaki kalian. 
Kalau kalian manusia kebanyakan yang dengan tujuan sepeda difungsikan hanya untuk transportasi kos/camp – tempat kursus, tempat kursus – kos/camp, begitu berulang-ulang kalian Cuma butuh sepeda kumbang berkeranjang yang kebanyakan warnanya ungu dan pink, monthly cost-nya berkisar 65-90 ribu tergantung kondisi dan ada boncengan belakang atau tidak. Kalau kalian tipe-tipe anak gaul yang menfungsikan sepeda selain sebagai transportasi juga sebagai alat gaya di kalangan manusia-manusia pare, silahkan pilih fixie ... saya kurang tau pasti berapa monthly cost nya yang jelas di atas rata-rata sepeda pink dan ungu unyu berkeranjang itu. 

pilihan sejuta umat di pare

Ada juga sepeda ontel buat orang-orang yang berjiwa vintage dan berkaki panjang tentunya. Yang saya sulit temukan adalah mountain bike yang layak jalan jauh, berkali-kali juga saya nyesel kenapa gak ngebawa federal jadi-jadian dari semarang sebelum dikirim balik ke rumah. Ujung-ujungnya saya mengurungkan niat buat rent mountain bike, karena pengen banget nyobain pake sely/ folding bike akhirnya saya rentalnya sely merah dengan merek unknown. Lumayanlah warnanya merah, harga sewanya 85 ribu. 

si lipat merah yang tak lagi kuasa dilipat
Hal yang terlintas di pikiran waktu milih sepeda itu adalah, bwaahahah! Gue bakal menjelajah jawa bagian timur dengan menggotong ini sepeda naik kereta. Angan tinggal angan, yang teritinggal hanya khayal. Beberapa hari menjajal itu sely, saya merasa gak tega dengan rantainya yang berderit-derit kepayahan dibawa racing 15 km/jam. Sesekali di waktu ngejar kelas yang hampir dimulai, saya malah mendapati si rantai luput dari orbitnya. Jadilah saya masuk wc buat bersihin tangan yang berlumuran oli rantai sebelum masuk kelas. Tapi tetap aja, saya sampai juga ke pusat kota Kediri dengan si sely merah. Menempuh jarak kurang lebih 30 km dari kampung inggris tentu saja dengan jeritan si rantai sepanjang jalan. Hehe.

Bagi yang benar-benar berniat untuk ke kampung inggris saya sarankan untuk tidak perlu terlalu panik dan booking course sebelum sampai ke sana, jika bukan musim liburan saya jamin semua kursus kemungkinan masih available sampai H-1 bahkan hari H. Jadi anda bisa register dan langsung masuk kelas di hari yang sama. Begitu juga dengan camp ataupun kosan, survey langsung di tempat lebih recommended karena kita gak pernah tau seperti apa kondisi di lapangan dan selera orang pasti beda-beda terkait kenyamanan. Jika mempunyai rekan yang sedang atau pernah ke Pare silahkan interview untuk mendapat beberapa referensi course yang recommended dan sesuai kebutuhan, jika tidak anda bisa datang lebih awal sebelum tanggal 1 atau 15 untuk survey. Sebagai catatan, course di Pare tidak terpatok pada tanggal tersebut, maksud dari tanggal 1 dan 15 adalah minggu pertama setiap awal bulan dan minggu ke tiga di tengah bulan. Karena durasi course Cuma ada dua macam, durasi 2 minggu dan 1 bulan.

Secara spesifik masing-masing course sudah punya spesialisasinya. Seperti halnya, tidak direkomendasikan makan bakso di warung yang terkenal dengan mie ayamnya. Jadi sepengetahuan saya ada beberapa course yang memang menonjol untuk spesifikasi tertentu, seperti The Daffodils yang terkenal dengan macam-macam program Speaking-nya; TEST dan Elfast dengan program TOEFL dan Grammar-nya. Dan Course fee nya juga sudah pasti akan berbeda setiap lembaga. Perbedaannya sangat mungkin sangat mencolok karena memang lembaga-lembaga kursus yang sudah punya nama memiliki fee yang lumayan jika dibandingkan lembaga lain yang biasa-biasa saja. Kalau punya waktu yang cukup banyak di pare sih, gak papa lah coba sana-sini. Lagian juga beberapa lembaga yang mungkin gak terlalu terkenal sangat mungkin bermutu seperti hal nya lembaga yang terkenal. Untuk staf pengajar orang asing sendiri, saya belum ketemu sih .. dengar dari beberapa teman, ada memang Cuma tidak banyak.

Buat urusan makanan, yaahh.. namanya juga di jawa. Biarpun namanya kampung inggris tetap aja standar makanan di sana jawa banget. Tapi dibandingkan daerah bagian jawa non-metropolitan lainnya mungkin di sini termasuk lebih variatif karena memang sudah dipersiapkan untuk orang-orang dari berbagai daerah dan macam-macam suku bangsa. Satu yang pasti, kalian akan menemukan banyak pentol di sini. Berdasarkan observasi kecil-kecilan saya, pentol itu semacam bakso kosong, gak pake kuah, gak pake mangkok, dan ditusuk ke lidi. Pakenya saos yang ditambahin cabe sesuai order-an dan diplastikin. Hampir mirip yang di sumatera sih, bakso bakar kami bilang. Bedanya bakso bakar itu, bakso dicelupin di saos, dibakar dan dikasih kuah kacang. Tapi as you know lah, kalian juga gak bisa berekspektasi bakso nya berasa beneran seperti rasa bakso kuah. Namanya juga bakso seribu satu tusuk. 
Kalau untuk urusan makan berat, saya sendiri karena gak terlalu lama di sini jadi cenderung nyobain berbagai macam tempat yang klop di lidah. Tapi namanya juga masakan orang jawa, di kantong sih oke-oke aja tapi tetap aja secara porsi saya merasa sangat terdzolimi. Apalagi yang namanya porsi nasi, nasi pecel dapet sih 5 ribu perak ... Cuma yah lauknya sekedar banget, nasinya apalagi. Giliran nyari rumah makan padang, porsi nasi nya sih lumayan tapi gulainya ... lebih mirip air cucian piring. Bwaaaah! Terjajah saya di sini. 
Tapi, walau gitu banyak juga kok makanan yang enak di sini, heheh... nasi goreng, sate nya yahhh.. bisa lah jadi opsi. Tapi yah, harga sate rata-rata di sini gak beda jauh sama harga di kota gede. Nasi goreng sih masih mendinglah, kisaran 6000-10.000. Tapi sebenarnya tergantung pinter-pinter, luas-luas pergaulan sih buat tau tempat makan yang murah dan banyak itu. Pernah saya sarapan bareng teman, makan lontong sayur + gorengan dua, Cuma keluar duit 3500perak, saya mikir itu 500 masih ada harganya ya?!. Hahah.
inilah muka-muka para pribumi yang bercita-cita menjadi bule kontemporer



Serba-serbi lain yang wajib kalian tau tentang pare selain makanan adalah tempat wisata. Yaapp!! Ini adalah hal yang tak terpisahkan dari orang dengan jiwa petualang sejati ataupun sekedar orang kota dengan jiwa kurang piknik. Penasaran apa aja yang ada di pare, kediri, dan sekitarnya?

Cari di postingan berikutnya, .... yang tidak tau kapan sempat saya tulisnya.